Posted by : R-da Adhitya Senin, 11 Maret 2013

Fotometri Bintang Part I
Untuk mempelajari benda-benda langit, informasi yang diterima hanyalah berupa seberkas cahaya. Cahaya termasuk gelombang elektromagnet.
Pancaran gelombang elektromagnet dapat dibagi dalam berbagai jenis, tergantung pada panjang gelombangnya (\lambda ).
  1. Gelombang radio, dengan \lambda antara beberapa milimeter sampai 20 meter.
  2. Gelombang inframerah dengan \lambda  sekitar 7500 Angstrom hingga sekitar 1 mm (1 Angstrom =10^{8}).
  3. Gelombang optik atau pancaran kasatmata dengan \lambda sekitar 3800 Angstrom sampai 7500 Angstrom.
  4. Gelombang UV, sinar X dan sinar \gamma yang mempunyai \lambda < 3500 Angstrom.
Untuk mempelajari sifat pancaran suatu benda, kita hipotesiskan suatu pemancar sempurna yang disebut black body (benda hitam).
  1. Pada saat keadaan kesetimbangan termal, temperatur benda hanya ditentukan oleh jumlah energi yang diserapnya per detik.
  2. Suatu benda hitam tidak memancarkan seluruh gelombang elektromagnet secara merata. Benda hitam bisa memancarkan cahaya biru lebih banyak daripada cahaya merah atau sebaliknya.
Panjang gelombang maksimum (\lambda_{maks}) pancaran benda hitam dapat ditentukan dengan Hukum Wien yaitu :
\lambda_{maks} = \frac{0,2898}{T}
dengan \lambda_{maks} dinyatakan dalam cm dan T dinyatakan dalam Kelvin.
  • Hukum ini menyatakan bahwa makin tinggi temperatur, maka makin pendek panjang gelombangnya
  • Hukum ini dapat digunakan untuk menerangkan gejalan bahwa bintang yang temperaturnya tinggi akan tampak berwarna biru sedangkan yang temperaturnya rendah akan tampak berwarna merah.
Fotometri Bintang Part II
Fluks adalah jumlah energi yang dipancarkan oleh setiap m^{2} permukaan benda hitam per detik ke semua arah, yaitu :
F = \sigma T^{4}
Apabila suatu benda berbentuk bola beradius R dan bertemperatur T memancarkan radiasi dengan sifat-sifat benda hitam, maka energi yang dipancarkan seluruh benda itu ke semua arah per detik disebut Luminositas yang dirumuskan sebagai :
L = A \times F = 4\pi R^{2} \sigma T_{efektif}^{4}
Fluks energi yang diterima oleh pengamat yang berjarak d dari suatu bintang yang berluminositas L adalah :
E = \frac{L}{4\pi d^{2}}
Energi Bintang yang diterima/melewati permukaan pada jarak d per m^{2} per detik (E). Persamaan ini disebut juga hukum kuadrat kebalikan (inverse square law) untuk kecerlangan (brightness). Karena persamaan ini menyatakan bahwa keverlangan benda berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya maka makin jauh sebuah bintang, makin redup cahayanya.
Jarak Bintang
Jarak bintang yang dekat dapat ditentukan dengan cara paralaks trigonometri.
d_{o} = jarak matahari – bumi (1 Astronomical Unit/AU)
d_{*} = jarak matahari – bintang
p = sudut paralaks bintang
Maksud dari sudut paralaks bintang adalah besarnya sudut perubahan posisi bintang apabila diamati dari tempat yang berbeda 180 derajat.
maka \tan{p} = \frac{d_{o}}{d_{*}}
karena p sangat kecil, maka persamaan di atas dapat dituliskan p = \frac{d_{o}}{d_{*}}, p dalam radian.
Apabila p dinyatakan dalam detik busur (“) dan karena 1 radian = 206265″, maka
p = 206265d_{o}/d_{*}

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Translate

Popular Post

Followers

pageviews

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2013 sekedar tulisan -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -