Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Puisi #2
Kau yang Duduk di Belakang
Aku di depan, kau di belakang
lagi-lagi hanya bisa curi pandang
susun strategi, pikiranku melayang
yang terlintas cuma lauk makan nanti siang
Dia masih duduk di belakang
Kucoba menunduk, konsentrasi ulang
ah aku lihat uang
kupungut saja, sayang
Aku yakin dia di belakang
Tak akan kubiarkan hilang
Kupicingkan mata setajam elang
Kuintip lewat jari yang senggang
Ah, jantungku berdegup riang
Belum lihat, jemari datang
ah, dasar kecoa belang!
Gagal lagi aku terbang!
Kau yang duduk di belakang
Sebentar lagi pulang
Tak bisakah kau beri ruang
untukku curi pandang
Untuk si cantik di belakang
Apa kau memakai gelang?
Kali ini aku menimbang
Ah kecoa belang, dasar Jamblang!
Bel sudah berdentang
Kau yang duduk di belakang
akan segera pulang
Siapa nyana dia datang, aku senang!
(ERDA ADHITYA BUDHI)
Puisi #1
SINGGASANA HIJAU
hawa kehidupan beriring dalam kabut malam
mengusik ketenangan hutan
yang hidup dan intisarinya menyusup dalam relung-relung gelap
menelan yang dilewatinya
yang hidup kemudian mati
kemudian hidup lagi
dari yang sempurna menjadi cacat
namun hidup di dunia yang sama sekali berbeda
menjadi inti kehidupan yang terkadang luput dari pandangan
kini kenangan yang tersimpan bagai kotak pandora mulai retak
membuat isinya merembes dan mengalir deras
mengantar kenangan yang lama menanti
bukan tak peduli,
tapi juga ku merasa tidak peduli,
hanya saja air mata mengalir
menyambut kehidupan yang datang di kala pagi
seperti primadani, seperti singgasana hijau
seluas kaki melangkah
ERDA ADHITYA BUDHI
hebatlah dalam berpikir
pandang langit dan pikirkan matahari
Jika kau merasa kecil dan tak bisa berbuat apapun,
pandang tanah dan pikirkan jasad renik
Namun, jika kau tak merasa besar ataupun kecil dan kemudian bimbang dan takut.
maka berpikirlah bagaimana kau dan pendahulumu ada
Nyanyian Rintik Hujan
makasih buat judul puisinyaa,, bagus,, maksih udah ngasih tau puisi ini,, :
fitria savitry suhendra
أنشودةُ المطر
Nyanyian Rintik Hujan
(لبدر شاكر السياب )
عيناكِ غابتا نخيلٍ ساعةَ السحَرْ ،
Matamu terlihat redup diambang fajar
أو شُرفتان راح ينأى عنهما القمر
Tampak anggun ketika rembulan berangkat menjahuinya
عيناك حين تبسمان تورق الكرومْ
Tatkala ia tersenyum, kebun-kebun pun menghijau
وترقص الأضواء … كالأقمار في نهَرْ
Sinar-sinar bergoyang… bagai rembulan di sungai
يرجّه المجذاف وهْناً ساعة السَّحَر
Dayungpun bergoyang lemas diambang fajar
كأنما تنبض في غوريهما ، النّجومْ …
Seolah-olah bintang berdenyut pada garis edarnya…
وتغرقان في ضبابٍ من أسىً شفيفْ
Keduanya tenggelam dalam kabut tipis penderitaan
كالبحر سرَّح اليدين فوقه المساء ،
Seumpama laut menyongsong senja di sore hari
دفء الشتاء فيه وارتعاشة الخريف ،
Hangatnya musim panas dan dinginnya musim hujan
والموت ، والميلاد ، والظلام ، والضياء ؛
Mati dan lahir, gelap dan terang
فتستفيق ملء روحي ، رعشة البكاء
Hingga ia menutupi semua jiwaku karena menahan tangis
ونشوةٌ وحشيَّةٌ تعانق السماء
Wanita asing menengadahkan wajahnya ke langit
إكنشوة الطفل إِذا خاف من القم
Seumpama gadis kecil takut pada sang rembulan
كأن أقواس السحاب تشرب الغيومْ
Seolah-olah gentong-gentong awan meminum mendung
وقطرةً فقطرةً تذوب في المطر …
Setetes demi setetes merangkak dalam guyuran hujan….
وكركر الأطفالُ في عرائش الكروم ،
Dalam singgasana perkebunan anak kecil itu tertawa
ودغدغت صمت العصافير على الشجر
Mengelitik, burung pipit diam di atas pohon
أنشودةُ المطر …
Nyanyian rintik hujan…
مطر …
Hujan …
مطر …
Hujan …
مطر …
Hujan …
karya Badr Syakir Assyab
fitria savitry suhendra
أنشودةُ المطر
Nyanyian Rintik Hujan
(لبدر شاكر السياب )
عيناكِ غابتا نخيلٍ ساعةَ السحَرْ ،
Matamu terlihat redup diambang fajar
أو شُرفتان راح ينأى عنهما القمر
Tampak anggun ketika rembulan berangkat menjahuinya
عيناك حين تبسمان تورق الكرومْ
Tatkala ia tersenyum, kebun-kebun pun menghijau
وترقص الأضواء … كالأقمار في نهَرْ
Sinar-sinar bergoyang… bagai rembulan di sungai
يرجّه المجذاف وهْناً ساعة السَّحَر
Dayungpun bergoyang lemas diambang fajar
كأنما تنبض في غوريهما ، النّجومْ …
Seolah-olah bintang berdenyut pada garis edarnya…
وتغرقان في ضبابٍ من أسىً شفيفْ
Keduanya tenggelam dalam kabut tipis penderitaan
كالبحر سرَّح اليدين فوقه المساء ،
Seumpama laut menyongsong senja di sore hari
دفء الشتاء فيه وارتعاشة الخريف ،
Hangatnya musim panas dan dinginnya musim hujan
والموت ، والميلاد ، والظلام ، والضياء ؛
Mati dan lahir, gelap dan terang
فتستفيق ملء روحي ، رعشة البكاء
Hingga ia menutupi semua jiwaku karena menahan tangis
ونشوةٌ وحشيَّةٌ تعانق السماء
Wanita asing menengadahkan wajahnya ke langit
إكنشوة الطفل إِذا خاف من القم
Seumpama gadis kecil takut pada sang rembulan
كأن أقواس السحاب تشرب الغيومْ
Seolah-olah gentong-gentong awan meminum mendung
وقطرةً فقطرةً تذوب في المطر …
Setetes demi setetes merangkak dalam guyuran hujan….
وكركر الأطفالُ في عرائش الكروم ،
Dalam singgasana perkebunan anak kecil itu tertawa
ودغدغت صمت العصافير على الشجر
Mengelitik, burung pipit diam di atas pohon
أنشودةُ المطر …
Nyanyian rintik hujan…
مطر …
Hujan …
مطر …
Hujan …
مطر …
Hujan …
karya Badr Syakir Assyab
Harapan Ada
Puitisasi dari berbagai umpatan berduri
Berdentam di balairung hati ini
Pasti suatu waktu kelak,
Perbedaan kan berikan dampak
Menjadi indah layak pelangi yang Nampak
Pasti suatu saat yang akan dating,
Tabu tak pernah nyata dan kan menghilang
Seperti lingkaran hujan yang tak pernah dikenang
Pasti suatu senja itu,
Deruman pedang diam seperti batu
Hentakkan hati tak kenal waktu
Pasti di suatu senja
Cinta merayap merajalela
Jadikan semua bersama
Selalu ada di kala tua
Meski renta dan hampir buta
Harapan Selalu Ada
To the End of Journey
When the stars gone by
also the moon exchanged by them
come, scattered on a dark cloud background
An adventurer rid off
All he takes and all had been gone
Stand by the two towers
And an invicible cloak enclose the death
it doesn't matter
when the tulips drown
overtake the water flow
it was impossible
there are nothing else on land
in and out the cave
though the war still doesn't stopped
the choice has been taken
A hummer got a hummingbird
the horizons stay on east and west
to the south wind goes
to the north light off
and he stays on his path.
by: erda adhitya budhi
also the moon exchanged by them
come, scattered on a dark cloud background
An adventurer rid off
All he takes and all had been gone
Stand by the two towers
And an invicible cloak enclose the death
it doesn't matter
when the tulips drown
overtake the water flow
it was impossible
there are nothing else on land
in and out the cave
though the war still doesn't stopped
the choice has been taken
A hummer got a hummingbird
the horizons stay on east and west
to the south wind goes
to the north light off
and he stays on his path.
by: erda adhitya budhi

